Selasa, Januari 27, 2009

Freedom.. Freedom.. Ugh!!

Hhhhaaahhhhh,
Kali ini menulis dengan kelegaan di dada.. Plong, se-plong-plongnya. Tapi..teutep males sih harus ingat-ingat lagi. But ok, here we go.
Allah tuh memang suka buka kartu orang ya. Entah knapa, mama dan papa yang tadinya mau bela-belain nahan si nanny di sini karena mama baru habis operasi tiba-tiba berubah pikiran. Ya, bukan nggak beralasan sama sekali juga sih. Suatu hari si nanny disuru beli sarapan. Pulangnya mama merasa anak ini nggak jujur soal duit yang dikasih untuk belanja tadi.
Nggak lama mama bilang ke aku supaya mengantar dia ke terminal bis hari minggu supaya dia bisa pulang dan nggak usah kembali lagi. Dalam hatiku, ada apa? Apa karena kejadian tadi pagi aja? Ternyata memang karena soal itu dan beberapa kejadian sebelumnya yang bikin mereka kehilangan kepercayaan sama si nanny. Biar nominal uangnya cuma sedikit banget, tapi bagi mereka kayaknya sudah mencerminkan anak ini memang sudah nggak bisa dipercaya.
Ok, whatever it is, I thought. Aku sih memang sudah nggak sreg dari dulu-dulu. Jadi sekarang apapun alasan mereka nggak suka sama dia sudah nggak penting. Yang penting dia pulang!
Sebetulnya bakal jadi kepuasan tersendiri kalau aku bisa ngusir dia dengan langsung. Tapi ternyata waktu Ibu menelpon ke kampung ternyata nenek si anak ini lagi sakit. Kebetulan pula, tiba-tiba anak ini mau pulang sendiri. Dia ngomongin itu sama mama, bilang mau pulang tapi kasian sama mama (karena habis operasi). Menurut mama sih kayaknya dia masih berharap akan ditahan-tahan lagi. Eh, taunya mama dan papa malah mendukung dia untuk pulang mengurus neneknya dan nggak kembali lagi, hahaha! Rasain, dasar penjilat.
Semua rencana kepulangannya dia omongin ke orang selain aku. Kalau nggak ke mama-papa, atau ke hubby. Ih, najong!
Hari kepulangannya yang nggak sabar malah aku. Bisnya seharusnya berangkat jam 1, dan tempat keberangkatannya sebetulnya deket banget. Paling cuma 5 menit pakai mobil. Tapi mulai jam 10 aku sudah mencoba membujuk my hubby untuk mengantarnya ke tempat bis tersebut, hehe. Alhasil sebelum jam 12 aku berhasil menyuruh si nanny untuk naik mobil.
Sebelum berangkat dia pamitan dulu ke papa, mama dan si tukang cuci. Memang dasar si Lebaiii, sok-sok agak nangis gitu deh. Peuhhh! Geli.
Pas sudah sampai tempat bis antar-kota, ternyata masih sepiii banget. Baru ada dua orang yang kayaknya pegawai pool. Satu gelintir bis pun belum ada, hehehe.
Kita kan merapatnya di pinggir jalan, tentunya mesti cepat-cepat dong. Bisa-bisa bikin macet kan. Eh dasar drama queen, sok dilama-lamain duduk di mobil. Sebetulnya dia mengharapkan apa sih?? Perpisahan yang penuh derai-derai dan kalimat-kalimat perpisahan a la sinetron? Cuhhhh!!! Yang ada aku hardik aja bilang "Ya udah turun, nunggu apa lagi??" Terus dia menyalami suamiku sambil minta maaf kalau ada (ya adalah!). Lalu menyalami aku minta maaf juga sambil kayaknya mau bilang sesuatu lagi. Tapi aku langsung bilang cepat-cepat sambil balik badan "Ya, ya." Masih juga berusaha lama-lamain?! Terus aku bilang "tutup pintunya."
Erghh!! Nggak banyak orang yang kubenci. Tapi sekali aku benci orang, biasanya pol banget!
Sebelumnya, waktu aku bilang ke hubby bahwa mama-papa mau mulangin dia, suamiku bertanya, "kamu pasti lagi seneng banget ya?". Ku jawab, "ya.., seneng aja karema ternyata aku nggak gila sendiri." Ya sempat berkali-kali kupikir kebencianku terhadapnya adalah pengaruh dari PpD-ku. Ternyata sekarang kelihatan bahwa dia layak untuk dibenci. Ah..itu aja, I'm not that crazy after all.
Saking buruknya efek kehadiran orang itu bagiku selama 6 bulan kemarin, aku sampai mimpi buruk; mimpiin dia selama dua hari! Ugh, what a nightmare! Selain itu belang-belang lainnya baru ketauan juga. Tetangga pada bilang dia centil, suka wara-wiri sama cowo-cowo mungkin supir angkot, dan suka ngebantah bahkan ke tetangga yang ibu-ibu, juga dibilang pemarah sama si tukang cuciku. Oh, waw! Orangnya udah ke mana, enegnya masih berasa berhari-hari.
Ampuuun deh!
Anyway, sekarang biar sampai tulang punggung rasanya retak pun karena mengasuh sendiri bocah-bocahku, toh rasanya jaaaauuuuhhhh lebih lega! Rasanya satu beban di kepalaku baru saja melayang terbang keluar jendela.
Just an exhale of relief.. Fffyuhh..
Alhamdulillah..