Selasa, Desember 08, 2009

Anak Perempuan



Waktu Pemilu 2009 lalu, bulan Agustus kalau tidak salah, aku dan Mamah datang bersama ke TPU setempat.
Saat menunggu giliran, Mamah sempat mengobrol dengan Ana si tukang nasi uduk. Ana adalah penduduk setempat, keturunan Betawi pinggir, entah asli atau nggak.
Sambil mengobrol, mau nggak mau aku ikut mendengar percakapan mereka. Bagaimana nggak, kan, aku duduk persis di sebelah mereka. Toh, Ana juga kadang berbicara sambil melemparkan pandangannya padaku.

Setelah pulang ke rumah, seperti telah kuperkirakan, Mamah membahasnya kembali kepadaku. Seakan-akan aku tidak berada di sana sebelumnya, uh. Entah apa awalnya, percakapan itu lalu membahas tentang anak perempuan. Kira-kira inti kalimat Ana adalah: "Musti punya anak perempuan. Kalo nggak entar kita tua siapa yang nyebokin?". Gaya bicaranya tentu dengan semangat.
Seperti yang kuduga juga, Mamah setuju dengan kata-katanya. Standar sih, responnya, "Tuh, Nit, iya juga tuh, kaya kata si Ana, blabla, ..". jawabku, "Kasian banget sih orang dilahirin buat nyebokin doang?"
"Ya kan kalau anak laki-laki nggak bisa ngerawatin kita sampe begitu".
Tentu, dengan bahasa si Ana, mungkin kata nyebokin bermakna panjang, yang maksudnya berarti mengurus dan merawat. Agak kejam ya, bahasanya? Hahaha! Begitulah orang Betawi, nggak yang di tengah, nggak yang di pinggiran, kami memang terbiasa ngomong blak-blakan.

Anyway, ucapan Ana dan Mamah makin membuatku berpikir tentang alasan-alasan orang untuk punya anak. Sebetulnya kenapa kita ingin punya anak?
Banyak orang menginginkan anak laki-laki, tapi mungkin lebih banyak lagi yang menginginkan punya anak perempuan. Coba, pasti kita sering menemukan situasi di mana sebuah keluarga yang hanya memiliki anak-anak lelaki. Pasti mereka pernah dihadapi dengan pertanyaan-pertanyaan seperti "Nggak mau nambah anak perempuan?", atau "tambah anak perempuan lagi, entar penasaran". Kalau aku sih, dihadapi dengan pertanyaan seperti itu pasti aku jawabnya "Nggak, udah cukup", "No, thanks" atau "Nggak penasaran tuuh (plus julurin lidah kalau perlu, tergantung cara ngomongnya, nyolot apa nggak)", hehe.

Sebetulnya apa perlunya punya anak 'lengkap'; laki dan perempuan? Apa seperti main bola, harus ada kiper yang menjaga gawang, penyerang yang harus memasukkan bola de el el? Kayaknya hidup nggak bisa diatur begitu, deh. Kita bisa saja menyiapkan sepasukan anak biar di masa tua kita nanti ada yang merawat. Bukan nggak mungkin anak-anak yang diharapkan itu malah nggak bisa merawat orang tua. Bisa aja kan, entah mereka meninggal duluan, atau tinggal di tempat yang jauh, atau bermusuhan dengan kita, atau nggak peduli aja sama kita? Amit-amit memang. Naudzubillahimindzalik, memang. Tapi bukannya nggak mungkin, kan? Namanya juga manusia. Bahkan nggak mungkin juga seorang yang punya cuma satu anak justru dirawat dengan baik sama anak semata wayangnya, laki atau perempuan. Bahkan, kalau Allah berkehendak, seorang yang nggak punya anak pun, bisa saja tua bahagia dengan kasih sayang seseorang yang bagaikan anaknya sendiri.

Allah itu Maha Besar. Maha Penyayang. Allah kan pasti sudah merencanakan sesuatu untuk kita. Kenapa kita harus takut terlunta-lunta ketika tua. Aku bahkan pasrah banget kalau sampai harus tinggal di panti wredha haha! At least di sana banyak teman. Yang penting jangan sampai tinggal di jalanan lah. Tapi kan masih jauh banget ya booo...
Coba pikirkan. Apa karena kita butuh orang untuk nyebokin kita pas tua, seseorang anak harus dilahirkan, dan cuma karena alasan itu? Huhu... kasihan banget anak itu. Jadi, seharusnya apa alasan kita punya anak? Hm... I frankly don't know the good answer to it. Seharusnya sih, agama kita sudah memberi petunjuk untuk jawabannya ya? Tapi aku kan emang bukan muslimah yang baik dan benarrrr, hehe. It'll be great if someone teach me that.

Aku sudah menyaksikan dengan mata kepala sendiri dan juga mendengar cerita tentang adanya beberapa anak laki-laki yang justru sangat sayang dan mau merawat orangtuanya saat orangtuanya sudah tua atau sakit. Padahal, orangtua mereka sebetulnya memiliki anak perempuan juga. Ini betul kok, aku nggak bohong. Aku menjadi saksinya. Bahkan jumlah kasusnya lumayan banyak.

Sebetulnya niih... aku sendiri juga punya pendapat, baru terpikir, bahwa hubungan antara ibu dan anak perempuannya banyak yang berupa love-hate relationship. Masing-masing saling mencintai, tapi masing-masing bersikukuh menjalani yang diinginkannya. Ibu kadang merasa tahu apa yang terbaik buat anaknya, sedangkan si anak juga merasa tahu bahwa yang dipilihnya sudah terbaik buat dirinya. Saat anak ingin membahagiakan orang tua, orang tua nggak mengerti apa niat si anak.

Kadang terpikir kalau anak perempuan dan ibunya seringkali berselisih paham JUSTRU karena kemiripan sifat yang mereka miliki. Maunya sih, nggak, apa daya kita kan, keturunannya. Belum lagi beban yang ditimpakan kepada anak perempuan. Cukup banyak mungkin. Salah satunya soal menikah, kan?

Selain itu, mungkin nggak usah heran juga kenapa kebanyakan hubungan ibu-anak lelaki dan ayah-anak perempuan lebih baik daripada sebaliknya. Kalau perempuan kan biasanya menggunakan lebih banyak emosi, sedangkan laki-laki lebih banyak menggunakan logika. Jadi mungkin itu sebabnya kalau ibu dan anak perempuan bisa berantem, karena yang keluar adalah emosi lawan emosi. Kalau ibu berselisih dengan anak laki-lakinya, paling si anak berpikir "aduh, bawel, cabut ah..", terus pergi deh, dia jalan-jalan. Kalau anak perempuan? "Ohya?? Ayo kita bahas!" Hehehe..

Satu lagi, orang seringkali ingin punya anak karena berpikir si anak hanya hidup dalam satu fase umur saja. Maksudnya, ada orang yang ingin punya anak perempuan dengan alasan: "Kan anak perempuan lucu, bisa didandan-dandanin, blabla.." karena yang terpikiran adalah anak perempuan pas masih kecil nya saja. Sebaliknya ada juga yang ingin punya anak perempuan karena, ya itu tadi, ada yang merawat di hari tuanya. Ah, guys, seseorang akan menempuh hidup dari bayi sampai tua. Dia nggak akan terus-terusan jadi anak, atau tiba-tiba dewasa dan jadi perawat orangtuanya. Apa nggak terpikirkan itu? Just a note, Mamahku selalu bilang, anak perempuan itu seperti gelas. Sekali retak, ya sudah nggak sempurna lagi. Whatever that means.. Memiliki anak berarti memiliki tanggung jawab yang sangat besar. Coba lihat deh, kita akan menghadapi dia melalui masa ABG dan masa-masa lain di mana, kalau dia seperti aku, yah malah sering berantem aja hehe...

Oiya, percakapan antara aku dan Mamah di atas tadi, jangan disimpulkan bahwa aku nggak mau merawat orangtuaku, lho. Aku sudah tahu betul tanggungjawabku apa, InsyaAllah aku akan merawat mereka. Nggak usah ditanya deh, aku sayang apa nggak sama mereka. Itu pertanyaan tolol. Banget. Mungkin aku kelihatan seperti anak yang paling sering berantem dengan mereka dibanding kakak-kakakku. Tapi bukan berarti aku nggak sayang. Aku hanya nggak bisa dimengerti oleh mereka. Selain itu, mungkin karena lebih sering berhubungan langsung makanya lebih sering berselisih. Kalau jarang ngomong gimana mau berantem, kan? So, no more stupid questions, ok?

Mungkin sebenarnya kita seharusnya merawat anak bukan supaya ia merawat kita nanti, tapi agar ia bisa menjalani hidup yang baik dan mandiri. Yah.. meskipun nggak salah juga berharap. Ya jalani dengan bismillah aja lah, rawat anak-anak demi kebaikan mereka, bukan demi kita.
Bismillah...

Kamis, Desember 03, 2009

Heheee

Ganti template ahhhhh... bosen!
Yang dulu menyiratkan kegelapan pikiranku banget. Yok ah, sekarang isi pikirannya dicat aja warna putih.
Plussss, aku punya blog baru lagi nih, hobi baru sih, cuiuiitttt! Yok mampirrr
Oia karena ada blog baru ini, aku rasa Fake Gourmetnya dinonaktifkan saja ya? Mareee

Selasa, Maret 17, 2009

Tidur

Tidur..
Ah..hm..
Kasur, yg dipasangi seprai bersih katun. Fresh from lemari. Seprainya di atas kasur dibentangkan, ditarik kuat-kuat ke semua sisi sambil diselipkan di bawah kasur. Seprainya lalu jadi licin seperti habis disetrika langsung di atas kasurnya. Lalu..terjun!
Hmmmm..rasanya hangat tapi juga adem. Terasa aroma kain baru disetrika. Badan awalnya serasa mengambang di atas kasur, tapi kemudian tenggelam. Blep..blep..
Angin dari jendela membuat tirai bergoyang pelan, menyalurkan angin sejuk semilir demi semilir. Irama yang cocok untuk mulai menghipnotis diri untuk segera tidur.. dan tidur.. tidur.. tid..
Yap, itulah gambaran tidur siang yang enak. Lezat. Gurih. Manis. Lembut. Sejuk.
Yang selalu ada waktu aku masih kecil. ENek (my beloved granny alm.) selalu menyediakan tempat tidur yang 'sempurna' seperti itu. You just jump on it, sleep in it, leave it messed, and voila, you come back to find it perfect again.
But, the granny is away. Beliau juga bukan lagi pasangan tidurku. Jangan berharap menemukan kasur lezat itu sekarang kalau si pembantu hanya merapikan sekali saja sehari.
Bahkan, jangan terlalu berharap bisa tidur siang hari.
BAHKAN, jangan berharap bisa tidur pulas di MALAM hari!
Punya anak dua, bayi dan batita, sleeping is a luxury.
Awal-awal punya bayi benar-benar bikin mabok, plus penuh pemberontakan diri karena bertanya-tanya kenapa si bayi nggak memperbolehkan kita tidur. Tapi, akhirnya, kita terpaksa menerima bahwa bayi adalah raja. Duh.
Anyway, meskipun berhasil membawa mereka pada kebiasaan tidur yang cukup sesuai jadwal ("udah mau jam 8 malam, ayo anak-anak, pakai piyama sekarang!" Basil: "Aaaah!" -kabur), tapi kegiatan siang yang penuh serta menyusui si dedek 2-3 kali semalam masih membuatku kurang tidur.
Mungkin kurangnya tidurku hingga kini terakumulasi terus. Ya, dari masa-masa hamil si abang kecil pun aku sudah mulai susah tidur. Kalau dihitung-hitung, yah, hampir tiga tahun mungkin?
Waw.. Lama juga ya?
Mungkin itu sebabnya akhir-akhir ini aku bisa saja ketiduran di mana saja kapan saja. Baru dua hari ini deh tepatnya. Literally anytime. Even when I was bathing Basil this morning. Parah, ya?
Terus kapan bisa tidur nikmat lagi? Entahlah. 1-2 tahun lagi mungkin?
Wawww...

Selasa, Januari 27, 2009

Freedom.. Freedom.. Ugh!!

Hhhhaaahhhhh,
Kali ini menulis dengan kelegaan di dada.. Plong, se-plong-plongnya. Tapi..teutep males sih harus ingat-ingat lagi. But ok, here we go.
Allah tuh memang suka buka kartu orang ya. Entah knapa, mama dan papa yang tadinya mau bela-belain nahan si nanny di sini karena mama baru habis operasi tiba-tiba berubah pikiran. Ya, bukan nggak beralasan sama sekali juga sih. Suatu hari si nanny disuru beli sarapan. Pulangnya mama merasa anak ini nggak jujur soal duit yang dikasih untuk belanja tadi.
Nggak lama mama bilang ke aku supaya mengantar dia ke terminal bis hari minggu supaya dia bisa pulang dan nggak usah kembali lagi. Dalam hatiku, ada apa? Apa karena kejadian tadi pagi aja? Ternyata memang karena soal itu dan beberapa kejadian sebelumnya yang bikin mereka kehilangan kepercayaan sama si nanny. Biar nominal uangnya cuma sedikit banget, tapi bagi mereka kayaknya sudah mencerminkan anak ini memang sudah nggak bisa dipercaya.
Ok, whatever it is, I thought. Aku sih memang sudah nggak sreg dari dulu-dulu. Jadi sekarang apapun alasan mereka nggak suka sama dia sudah nggak penting. Yang penting dia pulang!
Sebetulnya bakal jadi kepuasan tersendiri kalau aku bisa ngusir dia dengan langsung. Tapi ternyata waktu Ibu menelpon ke kampung ternyata nenek si anak ini lagi sakit. Kebetulan pula, tiba-tiba anak ini mau pulang sendiri. Dia ngomongin itu sama mama, bilang mau pulang tapi kasian sama mama (karena habis operasi). Menurut mama sih kayaknya dia masih berharap akan ditahan-tahan lagi. Eh, taunya mama dan papa malah mendukung dia untuk pulang mengurus neneknya dan nggak kembali lagi, hahaha! Rasain, dasar penjilat.
Semua rencana kepulangannya dia omongin ke orang selain aku. Kalau nggak ke mama-papa, atau ke hubby. Ih, najong!
Hari kepulangannya yang nggak sabar malah aku. Bisnya seharusnya berangkat jam 1, dan tempat keberangkatannya sebetulnya deket banget. Paling cuma 5 menit pakai mobil. Tapi mulai jam 10 aku sudah mencoba membujuk my hubby untuk mengantarnya ke tempat bis tersebut, hehe. Alhasil sebelum jam 12 aku berhasil menyuruh si nanny untuk naik mobil.
Sebelum berangkat dia pamitan dulu ke papa, mama dan si tukang cuci. Memang dasar si Lebaiii, sok-sok agak nangis gitu deh. Peuhhh! Geli.
Pas sudah sampai tempat bis antar-kota, ternyata masih sepiii banget. Baru ada dua orang yang kayaknya pegawai pool. Satu gelintir bis pun belum ada, hehehe.
Kita kan merapatnya di pinggir jalan, tentunya mesti cepat-cepat dong. Bisa-bisa bikin macet kan. Eh dasar drama queen, sok dilama-lamain duduk di mobil. Sebetulnya dia mengharapkan apa sih?? Perpisahan yang penuh derai-derai dan kalimat-kalimat perpisahan a la sinetron? Cuhhhh!!! Yang ada aku hardik aja bilang "Ya udah turun, nunggu apa lagi??" Terus dia menyalami suamiku sambil minta maaf kalau ada (ya adalah!). Lalu menyalami aku minta maaf juga sambil kayaknya mau bilang sesuatu lagi. Tapi aku langsung bilang cepat-cepat sambil balik badan "Ya, ya." Masih juga berusaha lama-lamain?! Terus aku bilang "tutup pintunya."
Erghh!! Nggak banyak orang yang kubenci. Tapi sekali aku benci orang, biasanya pol banget!
Sebelumnya, waktu aku bilang ke hubby bahwa mama-papa mau mulangin dia, suamiku bertanya, "kamu pasti lagi seneng banget ya?". Ku jawab, "ya.., seneng aja karema ternyata aku nggak gila sendiri." Ya sempat berkali-kali kupikir kebencianku terhadapnya adalah pengaruh dari PpD-ku. Ternyata sekarang kelihatan bahwa dia layak untuk dibenci. Ah..itu aja, I'm not that crazy after all.
Saking buruknya efek kehadiran orang itu bagiku selama 6 bulan kemarin, aku sampai mimpi buruk; mimpiin dia selama dua hari! Ugh, what a nightmare! Selain itu belang-belang lainnya baru ketauan juga. Tetangga pada bilang dia centil, suka wara-wiri sama cowo-cowo mungkin supir angkot, dan suka ngebantah bahkan ke tetangga yang ibu-ibu, juga dibilang pemarah sama si tukang cuciku. Oh, waw! Orangnya udah ke mana, enegnya masih berasa berhari-hari.
Ampuuun deh!
Anyway, sekarang biar sampai tulang punggung rasanya retak pun karena mengasuh sendiri bocah-bocahku, toh rasanya jaaaauuuuhhhh lebih lega! Rasanya satu beban di kepalaku baru saja melayang terbang keluar jendela.
Just an exhale of relief.. Fffyuhh..
Alhamdulillah..