Minggu, Juni 29, 2008

Alhamdulillah, Basil Ulang Tahun ke-1!

Alhamdulillah, sampai juga kita di satu tahun kelahiran Basil Sayang!
No, his name is not Basil Sayang, tapi bagiku memang begitu. Setelah mikir berbulan-bulan enaknya bikin apa di ulang tahun Basil, akhirnya aku memutuskan untuk nggak usah ngundang-ngundang dan pesta-pesta dulu deh. Tadinya bahkan mau buat kue sendiri. Udah ngumpul-ngumpulin resep yang 'baby friendly', tapi gara-gara Bundanya habis DBD, semangatnya jadi turun deh. Apa boleh buat, cari yang simpel, a.k.a beli!
Tadinya mau cari yang 'baby friendly' juga, tapi kok malah njelimet. Pikir-pikir lagi, ya udah lah, toh Basil udah setahun. Boleh dong, dia dikasih hadiah makan yang enak. toh dia nggak akan makan satu cake sendirian. Berpaling dari cake yang mahal dan tempatnya jauh, akhirnya cari bakery yang dekat aja, di Meruya, namanya Pinot. Pesen kue ukuran 20cm yang double chocolate. Hiasannya ternyata yang paling murah, itu juga goban hehe, dengan tambahan edible picture. Sebetulnya aku nggak suka kue dengan edible picture, kasihan kan nanti foto muka Basil dipotong-potong, hehe. Tapi mbak-mbak Pinot-nya meyakinkanku bahwa foto bisa diganti dengan gambar apa aja. Yang terpikir oleh ku langsung, cling, gambar jerapah. Yup, boneka favorit Basil.
So pada hari-H, Ayah Subuh-subuh buta udah SMS dengan ucapan selamat ulang tahunnya. Basil begitu bangun celingukan kuciumin selamat ulang tahun. Cup-cup muah-muah!
Abi dan Umi juga langsung ngucapin selamat pagi-pagi lengkap dengan kadonya, mobil F1 yang bisa dinaiki diikat dengan pita merah. Cihui!
Habis itu Bunda ambil pesanan kue deh. Eh, lucu juga kuenya. Nggak lama Uwak Doddy datang nenteng kado. Begitu juga Uwak Rommy dan Kakak Nayya. Basil seneng banget kalau ada kakak Nayya. Bisa ada teman main soalnya. Kan selama ini Basil yang paling unyil kecepril di rumah, he he he!
Basil bingung kue itu apa. Kenapa orang-orang harus ngelilingi kue? Jadi dia nggak terlalu excited, cuek aja. Tapi kakak Nayya menunjukkan cara menikmatinya, toel aja pake jari krimnya, slep slep, nyam! Maka, datanglah Basil ke kue dan hap! Telapak tangan lengkap dengan lima jarinya aja gituhhh nempel di kue!
Ihik! Untung Bunda sudah berusaha memahami kalau ulang tahun anak-anak memang nggak bisa rapi. Nggak apa-apa lah, nggak rusak banget kok. Setelah tiup lilin (kak Nayya sama Bunda sebetulnya yang niup), potong-potong kuenya dan hap, nyam-nyam! Enak juga kuenya. Nggak kemanisan.
Basil lalu buka kado (girang banget tambah mainan!), sampai bingung mau main yang mana. Nggak lama kedua mahluk mini itu berenang deh di kolam tiup. Awalnya Basil takut lihat air sebanyak itu. Tapi akhirnya, biar sambil meringis-meringis dia seneng juga.
Sambil anak-anak main, yang tua-tua nikmati makanan yang dimasak nyokap. Hmm, nasi kuning, udang goreng kelapa, ayam, sambel kacang, lekker! (Ayah rugi deh nggak di sini!)
Acara, basically, cuma diisi dengan ngobrol, main dan makan. memang sih anak kecilnya cuma dua. Tapiiii berantakannya kayak habis ada anak satu TK ke rumah. Gimana kalau ngundang-ngundang ya?

Kamis, Juni 19, 2008

9 hari tanpa Basil

Uhuaaa!
Maaf, pelampiasian dulu. Habis dari judulnya saja sudah bikin aku sedih.
Senin malam 26 Mei lalu, aku mulai merasa ada yang aneh dengan badanku. Sehabis menidurkan Basil, aku terbangun lagi dengan kondisi badan nggak keruan. Rasanya demam plus seakan ditindih gajah. Badan sakit semua! Saking beratnya 'gajah' itu aku sampai mengaduh-aduh sendiri (tapi siapa juga yang mendengar?). Besoknya masih panas, dan hari berikutnya pun aku ukur suhu badan dengan termometer Basil, ternyata 39derajat.
Aku kan paling malas ke dokter. Tapi akhirnya aku mengalah juga, apalagi setelah Mama menakut-nakuti "Awas DBD lho". Memang sih di sebagian tangan dan kakiku ada bintik2 merah kayak bekas gigitan nyamuk. Tapi belum berarti sama kan?
Datanglah aku dan Papa ke klinik 24jam di Meruya. Setelah masuk ruang prakteknya, si dokter aku kasih tahu kondisiku, termasuk panas 39derajat selama 3 hari tanpa batuk dan pilek. Nah, inilah yang selalu bikin aku sebal tentang dokter di Indonesia. Mereka saaaaaaaaaaaaangat pasif. Ya, mungkin nggak semua, tapi kebanyakan definitely-ya! Si dokter setelah memeriksa (cuma periksa pernapasan, tenggorokan, terus tekanan darah tanpa memberitahu berapa tekanannya), lalu mulai menulis-nulis resep. Aku berpikir, "wah, sebentar lagi aku ditendang keluar nih", makanya aku langsung bertanya, "Jadi saya kenapa Dok?". Jawabnya, "Kelihatannya radang" tanpa merinci lebih lanjut, apa radang tenggorokan, kerongkongan, paru-paru, apa radang apa????
Terus terang keluar dari situ aku agak kecewa juga. Kok, sudah tahu kondisiku segitu aja penilaiannya. Sambil menunggu obat di depan ruang dokter tadi aku lihat poster tentang waspada demam berdarah. Aku juga tahu kalau di klinik itu ada laboratoriumnya. Jadi bisa saja si dokter menyuruhku tes darah kalau curiga apa-apa.
Sehari, dua hari, kondisiku nggak juga membaik. Panas pun belum bisa turun stabil. Untungnya, hari Sabtu adalah waktunya kontrol kandungan. Begitu cerita tentang kondisiku seminggu ini, dokter kandunganku di RSPP, dr. Erwinsyah langsung curiga aku kena DBD atau Typhus. Dia langsung menyuruhku tes darah saat itu juga.
Setelah tes darah aku menunggu sambil menggigil. Aneh juga, pikirku, seminggu ini kan aku panas, sekarang malah kayak kedinginan. Untung aku ditemani Papa, Mama dan Basil. Setelah sejam lebih hasilnya selesai dan aku bawa lagi ke dr. Erwin. Saat itu juga aku didaulat nggak boleh pulang ke rumah karena ternyata aku kena DBD!
Hari itu aku memilih kamar kelas tiga biar nggak mahal-mahal banget. Kamar yang berisi 5 ranjang itu aku isi sendirian. Nggak kepikir juga minta ditemani. Aku anehnya cukup santai, cuma berpikir, "Yah anggap aja ini cuti dari Basil". Aku toh bisa tidur. Belum terlalu terpikir kapan bisa bertemu Basil, apalagi dia nggak boleh naik ke lantai di mana kamarku berada.
Selama aku di RS, Basil ada dalam pengasuhan Mama. Tiap mereka menjenguk Basil cuma bisa di lantai dasar saja, alias nggak bertemu aku. Alhamdulillah, seorang suster sempat memberi kesempatan bertemu aku walau cuma sebentar. Tapi malah bikin aku pengen nangis, karena Basil setelah beberapa hari nggak bertemuku kok nggak mau kugendong. Buhuuuu!
Karena aku di RS pula, terpaksa aku merelakan Basil dikasih makan apa saja deh, termasuk susu UHT oleh Mama. Pikirku, ya sudah deh, terpaksa mencuri waktu lebih cepat beberapa minggu untuk mencoba susu UHT. Saat itu aku benar-benar pasrah. Lalu, ASI eksklusifku? Uhuhu!
Di luar ASI eksklusifku yang kacau, Basil benar-benar anak baik, dia nggak rewel, nggak juga heboh mencari aku dan bisa tidur dengan Umi dan Abinya. Padahal sebelum masuk RS, dia hanya bisa tidur dengan mengempeng ASIku saja.
Di kamar RS yang pasiennya sudah berganti-ganti di mana aku tetap manteng, juga aku baru sadar, bahwa selain Basil, ada bayi lain yang meminta perhatianku. Ya, yang di perut ini. Selama ini aku toh keukeuh memberi perhatian jauh lebih banyak ke Basil daripada adiknya. Tapi di kamar itu aku bisa merasakan gerakan adiknya Basil lebih banyak. Lebih lagi, aku baru sadar bahwa keadaanku sebetulnya bisa membahayakannya. Menurut dr. Erwin, aku bisa saja pendarahan karena DBD itu. berarti aku bisa saja kehilangan adiknya Basil dong??
Aku memang nggak terlalu memikirkan diriku sebetulnya. Aku cuma merasa butuh istirahat. Padahal badanku panas, hidungku ada jejak darah kering, napasku pun lebih sering sesak (kata dokter internisnya karena paru-paruku berisi cairan) dan harus pakai oksigen bila tidur. Darahku diambil untuk dites dua kali sehari, sampai-sampai hampir nggak ada tempat lagi untuk menusukkan jarum di tanganku. Setelah seminggu lenganku biru-biru bekas 'penghisapan' darah tersebut. Trombosit terendahku 14.000. Aku benar-benar bedrest, nggak boleh turun dari tempat tidur.
Kondisiku lebih bikin panik keluarga daripada aku sendiri. Mereka bergantian datang dan bahkan menginap menemaniku. Sebetulnya sih, aku lebih sering merasa nggak enak hati kalau ditemani. Habis kepikiran, nggak nyaman sekali tidur di lantai. Kasian kan? Tapi mereka memang semua care dan baik. Aku pasrah sajalah, apa yang mereka lakukan kebanyakan bukan keputusanku dan aku terima. Belum lagi Abang yang ikut panik dari NZ, sampai-sampai kita bisa chat dengan laptop Dody, tetangga Ibu. Thanks to him! Toh, Abang kularang pulang cuma karena aku sakit. Aku tetap masih belum sadar kegawatanku. Emangnya gawat ya?
Lama-lama dari pasrah jadi kian membosankan di kamar RS. Mana nggak ada tv. Seminggu lebih diam di ruangan yang sama malah bisa bikin penyakit baru rasanya. Apalagi aku mulai kangen Basil. Cutiku? Forget it! I need my Basil!
Pada hari Sabtu berikutnya (fyuhh seminggu nih!), dokter internis yang menggantikan dokter internis asliku bilang kalau aku sudah bisa pulang hari Minggu. Cihuiii! Alhamdulillah!
Guess what? Pada hari H-nya dokter internis malah bilang aku belum boleh pulang! Aaarrrrgghhh, meradang deh!!!! Dasar dokter lagi, dokter lagi. Plus, aku paling nggak suka sama orang yang hari ini ngomongnya A besok ngomongnya lain lagi. Nggak bisa dipegang banget sih! Dan dia dokter gitu lho?! Alhasil aku ngambek. Nangis bombeiiiii di bantal sambil diliatin abangku Doddy, yang sudah dari pagi juga datang mau menjemput, hingga nangisku reda.
Ternyata 'kengambekan'ku disampaikan oleh suster ke dokter-dokter tersebut. Dokter Erwin akhirnya datang hari itu juga dengan T-shirt saja sambil berusaha menjelaskan bahwa dari sisinya dia nggak melarang aku untuk pulang, tapi kan, tergantung dengan dokter internis juga. Dia juga menepuk-nepuk punggungku seperti ke anak kecil. Setelah dokter Erwin, datang dokter internis pengganti itu (aku lupa namanya), berusaha menjelaskan blahblah bahwa kemarin maksudnya aku boleh pulang dengan syarat tertentu. Padahal kemarin dia cuma bilang aku boleh pulang hari Minggu. Pffff! Si internis pun menyuruh suster untuk melepas infusku agar aku lebih percaya kalau aku Senin boleh pulang. Kedua dokter itu aku tanggapi dengan dingin. Yah mungkin bukan salah dokter Erwin juga, dia toh nggak janji apa-apa. Mungkin sikapku ini kekanak-kanakan tapi aku nggak peduli. Aku rasanya berhak emosi karena merasa dibohongi. I did my packing to go home! Pokoknya nggak seorangpun seharusnya asal janji.
Mungkin orang lain bisa melihatnya dengan enteng, "apa bedanya sih, sehari doang lagi?". BEDA!!! Di mana bedanya? EKSPEKTASI. Kalau kita sudah dijanjikan sesuatu, apalagi kita memang menginginkannya, pastilah kita punya ekspektasi yang besar untuk itu. Karena itu tegas-tegas aku bilang: BEDA. Sehari, sejam, semenit pun akan beda bagiku!
Makanya jangan pernah asal janji. Ngomong pun jangan asal!
Hari Senin aku segera sarapan, mandi dan mengganti baju seragam pasienku dengan bajuku sendiri. Hahh, lega rasanya sudah nggak ada selang dan jarum di tanganku. Aku benci jarum di badanku sebetulnya. Payahnya beberapa hari sebelum kepulanganku selang itu entah gimana sempat longgar hingga darahku menetes-netes ke lantai kamar mandi. Duh, ini lagi, darah! Aku juga suka lemas sendiri melihat darah. Pokoknya aku harus segera pulang!
Pagi itu aku sudah rapi dan ngobrol dengan pasien baru di kamarku. Akhirnya orang administrasi datang juga. Segera aku turun sendiri mencari kasir di lantai dasar dan membayar tagihan. Uhh lumayan tagihannya!
Lalu aku balik lagi ke kamar dan melanjutkan obrolan sambil menunggu either jemputan atau dokter. Kalau jemputanku datang lebih dulu, for sure I'll skip the doctors! Ternyata dr. Erwin yang datang duluan, dia dan suster malah nyengir melihatku sudah rapi. Kali ini dia terlihat seperti dokter lagi dengan seragam putihnya. Setelah dia pergi, datang dr. Deskian(bener nggak ya namanya?), the internist. Dokter ini nih, yang melambatkan sehari kepulanganku. Entah dia ngomong apa, masuk kuping kiri keluar kuping kananku. Yea yea!
Akhirnya dia pergi. Nggak lama Papa pun datang menjemput. Akhirnya aku bisa pulang! Alhamdulillah!!
Rumah, Basil, tempat tidurku sendiri...I'm coming! Sampai di rumah terlihat muka Basil di tempat tidurku sedang tidur.Uuhh, my baby! Dia bangun karena sepertinya aku agak mengganggu, hehe. Meski agak takut kalau dia nggak mengenaliku, aku gendong dia. Eh, ternyata mau. Rambutnya basah karena keringat pas tidur. Aduhh senangnya bisa memeluk gembil kecilku lagi!! Setelah bangun sepenuhnya dia melihatku sambil nyengir. Ah honey, Bunda's home!
Belum langsung happy end. Mama menyuruh ku untuk menitipkan Basil setidaknya 2 malam lagi di kamarnya agar aku bisa istirahat penuh. Aku mengiyakan. Tapi, alhasil aku malah nangis melulu kalau mau tidur, rasanya sepi banget! Nggak ada Basil, nggak ada Abang, hanya ada dedeknya Basil yang masih di perut. Rasanya sedih banget.
Setelah 2 hari, baru Basil benar-benar bisa tidur denganku. Saat mau tidur kucoba menyusuinya, apa masih bisa? Ternyata Basil masih ingat menyusu! Alhamdulillah. Uhh, kupeluk dia tiap malam saat tidur. We're really back together again now. I missed you Basil!