Senin, Mei 05, 2008

The Beginning

Nah...
It's all begin when I jumped into a fast track train. Well, it felt like it.
Saat aku bertemu suamiku pertama kali, aku sudah bekerja selama kurang lebih lima tahun di tiga perusahaan. Selama itu juga aku secara finansial berusaha untuk nggak terlalu tergantung orang lain. Aku selalu berusaha untuk mandiri. Yah, seenggaknya untuk ukuran aku sendiri, sih.
Terbiasa hidup nggak ngoyo, yang penting happy, aku nggak ngotot-ngotot amat untuk punya cowok. Terbukti sepanjang hidupku yang namanya mantan pacar bisa dihitung dengan satu tangan saja. Terserah yang kanan atau yang kiri. Itung pakai kaki juga boleh.
Tapi kira-kira di dalam setahun sebelum aku bertemu suamiku, samar-samar aku ingat rasanya seperti pernah melakukan speed dating, in my own way. Siapa yang mau kenalan hayu, siapa yang mau ngenalin aku dengan maksud menjodohkan, hayu juga. Blind date, ok! Kencan dengan yang lebih tua, lebih muda, siapa takut? Aku sebut speed dating karena cara penyisihan finalisku yang cukup cepat. Kalau setelah pertemuan pertama nggak ada pertemuan berikutnya, berarti dia nggak tertarik. Kalau dia terlalu 'mengerikan' buatku, aku yang kaburr!
Kalau dia ragu-ragu? Ah, lama banget, sih, aku nyambi kenalan sama orang lain aja, deh!
Aku nggak sadar melakukan speed dating ini karena, biasalah, Mama yang udah ngebet mantu. Belum lagi almarhumah Nenek yang dulu selalu mendoakan aku tiap mau berangkat kerja, agar ia sempat melihatku menikah.
Alhasil, mendekati akhir tahun 2005 aku bertemu suamiku dan merasa bisa langsung ngobrol apa saja. Selain itu ia tampak nggak ragu-ragu menunjukkan rasa tertariknya padaku. Jadi saat itu seperti Yan dari Wok with Yan bilang: "Whotta heck!", jadilah kita pacaran.
Ternyata pacaran yang ini benar-benar dimanfaatkan Mama dengan mengintimindasi suamiku untuk menikahiku(ohahhahaha!!). Baru juga sebulan, Mama sudah berkali-kali bertanya, "Kapannn???" kepadanya. Akhirnya dia dan aku menyerah juga, dan bulan Agustus tahun berikutnya kami menikah. Sebulan dari itu? Aku hamil!
Peralihan status dari single fighter jadi pacar orang yang baru dikenal sebentar, terus jadi calon pengantin yang bersiap-siap menikah, terus ke menikah beneran, lalu jadi istri orang, and soon be a mommy-to-be (gasp!) rasanya seperti naik bullet train!
I was totally over-overwhelmed! Mungkin ini yang jadi salah satu pemicu kewalahanku saat menghadapi jadi ibu.
And the madness continue..

Tidak ada komentar: