Minggu, Mei 25, 2008

Si Kecil yang Kuat

Anak pertama kami ini ternyata emang dari sononya kuat kayanya.
Jadi, saat kami tau kalau aku sudah hamil, kami memang sudah membeli tiket pesawat untuk mudik. Kan, ketahuan hamilnya hanya dua hari sebelum Lebaran. Jadi saat pertemuan pertama kami dengan dr. Ismail kami sudah bertanya apakah boleh mudik?
Ternyata dr. Ismail malah keliahatan pasrah saja. Meskipun ia menyarankan untuk nggak mudik, tapi sepertinya ia tahu agak nggak mungkin menghalangi orang yang mau mudik apalagi sudah beli tiket. Tau sendiri kan, para pemudik suka pada nekat, naik bajaj pun jadi! Padahal sih, aku juga baru kali ini mudik. Wong, nggak punya udik! Man, gue betawi banget kali, mau mudik ke mana juga?
Jadi, pak dokter ini lalu hanya bisa memberikan obat penguat kandungan, segabruk vitamin dan berpesan untuk hati-hati di jalan.
Jadilah kami mudik dengan tiket ke Solo. Apakah kita mudik ke Solo? Oh, no. Kita mudik ke Ngawi. Tepatnya sebuah desa kecil di tengah hutan jati yang aku lupa nama desanya. Jadi dari Solo kita masih naik kendaraan lagi, beruntung dijemput oleh PakLik, ke desa tersebut.
Kalau soal jalan-jalan, mah, itu memang hobiku. Perjalanan yang paling guillla cuapeknya yang pernah aku lakukan yaitu ke Baduy. Memang, jalan-jalan sampai ke kampung-kampung aku memang suka, biar kata orang 'nggak ada apa-apa di sana', tetap saja bagiku pasti ada sesuatu. Seenggaknya buatku sendiri.
Tapi, kali ini kondisinya kan, beda. Saat itu aku sedang hamil muda. Mual-mual, masih. Cepat capek, juga. Cepat kepanasan, pasti. Sayangnya, waktu kita datang di desa justru kemarau sedang gahar-gaharnya. Yang namanya desa di tengah hutan jati, boro-boro kelihatan rindang. Setiap pohon paling cuma ada beberapa daun yang berusaha berpegangan erat. Fyuhh.. panasnya. Belum lagi jalan masuk ke desa dari tepi jalan raya yang ternyata offroad, bo!
However, saya tetap saja menikmati sensasinya. Kalau saja saya nggak menikah dengan Abang, saya nggak punya mertua yang tinggal di desa ini, dan nggak pernah ngerasain mudik. Kalau soal offroad sih, I love it! Namun bagaimanapun aku khawatir juga dengan kandunganku. Jalan yang gujrak-gajruk dan berbatu-batu yang nggak berbelas kasihan bikin kami semua melanting ke sana-sini. Aku cuma bisa berdoa dan berusaha berkomunikasi dengan si kecil di perut. Aku sering-sering berbisik padanya tanpa sepengetahuan orang lain, "Dedek, pegangan erat-erat ya, kita lagi offroad. Dedek nggak apa-apa, kan?".
Tapi mungkin Basil memang kuat dari kecil. Waktu hamil Basil, aku masih kerja di perusahaan penerbit majalah cewek. Majalah cewek 20s, deh. Waktu itu jadi reporter plus penulis. Biar hamil teuteup dong, meliput acara ini, acara itu. Belum acaranya yang weekend, terus acara anak muda, entah di lapangan olahraga. Belum lagi liputan acara musik atau launching di cafe yang wartawannya banyakan pada merokok. Duhhh, uhuk uhuk, kasian dong, baby-ku!
Saat itu pula, Ayah dan Bunda masih merambat banget nih keuangannya, he he. Abang masih naek motor. Aku seringnya diantar dan dijemput Abi. Untung masih tinggal sama Abi dan Umi. Lagipula Abi udah pensiunan jadi berbaik hati mau mengantar. Tapi kadang juga dijemput Abang naek motor. Bahkan, sering juga naik bis sampai rumah, atau sampai Ratu Plaza baru dijemput Abang.
Alhamdulillah, sepanjang hamil nggak pernah ada masalah, apalagi sampai flek. InsyaAllah Basil anak yang senantiasa kuat dan sehat. Amiiin.

Tidak ada komentar: