Senin, Mei 26, 2008

Resep Nasi Tomat

Ini resep MPASI buat Basil. Baru sekali dibuat, Basil kayanya doyan. Bikinnya juga seneng sih, baunya enak! Yummy! Karena MPASI jadi nggak pakai garam. Kalau orang dewasanya mau tambahin aja garam, dan ganti ayam gilingnya dengan potongan dadu daging ayam. Yuk!

Bahan:

2 genggam beras
2 sdm penuh daging ayam giling
1 bh terong ungu ukuran sedang, potong dadu kecil-kecil
1 buah tomat, parut, saring
2 cangkir kecil kaldu atau air
1 sdm mentega

Bumbu:
1 siung bawang putih
1 siung bawang merah
1 cubit (pake jempol dan telunjuk) kayu manis bubuk

Cara membuat:
- panaskan mentega hingga leleh. Tumis bawang merah dan putih hingga harum
- masukkan daging ayam, aduk-aduk.
- masukkan beras, aduk.
- tambahkan secangkir kaldu atau air, parutan tomat serta kayu manis bubuk
- aduk rata hingga air meresap
- matikan api dan masukkan potongan terong ke dalam campuran beras.
- tuang campuran beras ke pinggan tahan panas. Tambahkan kaldu atau air.
- kukus hingga matang. Hmm wangi!

Tips:
- selain terong bisa pakai sayuran apa saja. Di sini karena memakai terong yang cepat matang, maka potongan terong dimasukkan belakangan. Jadi perhatikan sendiri kematangan sayurnya ya!
- nasi ini dicobakan ke Basil waktu dia umur 11 bulan. Untuk bayi di bawah umur itu perhatikan apakah ia sudah bisa menerima bahan-bahan seperti di atas. Terutama tomat yang punya zat asam.
-jumlah kaldu boleh dikira-kira aja kok. Aku juga, hehe!

Minggu, Mei 25, 2008

Si Kecil yang Kuat

Anak pertama kami ini ternyata emang dari sononya kuat kayanya.
Jadi, saat kami tau kalau aku sudah hamil, kami memang sudah membeli tiket pesawat untuk mudik. Kan, ketahuan hamilnya hanya dua hari sebelum Lebaran. Jadi saat pertemuan pertama kami dengan dr. Ismail kami sudah bertanya apakah boleh mudik?
Ternyata dr. Ismail malah keliahatan pasrah saja. Meskipun ia menyarankan untuk nggak mudik, tapi sepertinya ia tahu agak nggak mungkin menghalangi orang yang mau mudik apalagi sudah beli tiket. Tau sendiri kan, para pemudik suka pada nekat, naik bajaj pun jadi! Padahal sih, aku juga baru kali ini mudik. Wong, nggak punya udik! Man, gue betawi banget kali, mau mudik ke mana juga?
Jadi, pak dokter ini lalu hanya bisa memberikan obat penguat kandungan, segabruk vitamin dan berpesan untuk hati-hati di jalan.
Jadilah kami mudik dengan tiket ke Solo. Apakah kita mudik ke Solo? Oh, no. Kita mudik ke Ngawi. Tepatnya sebuah desa kecil di tengah hutan jati yang aku lupa nama desanya. Jadi dari Solo kita masih naik kendaraan lagi, beruntung dijemput oleh PakLik, ke desa tersebut.
Kalau soal jalan-jalan, mah, itu memang hobiku. Perjalanan yang paling guillla cuapeknya yang pernah aku lakukan yaitu ke Baduy. Memang, jalan-jalan sampai ke kampung-kampung aku memang suka, biar kata orang 'nggak ada apa-apa di sana', tetap saja bagiku pasti ada sesuatu. Seenggaknya buatku sendiri.
Tapi, kali ini kondisinya kan, beda. Saat itu aku sedang hamil muda. Mual-mual, masih. Cepat capek, juga. Cepat kepanasan, pasti. Sayangnya, waktu kita datang di desa justru kemarau sedang gahar-gaharnya. Yang namanya desa di tengah hutan jati, boro-boro kelihatan rindang. Setiap pohon paling cuma ada beberapa daun yang berusaha berpegangan erat. Fyuhh.. panasnya. Belum lagi jalan masuk ke desa dari tepi jalan raya yang ternyata offroad, bo!
However, saya tetap saja menikmati sensasinya. Kalau saja saya nggak menikah dengan Abang, saya nggak punya mertua yang tinggal di desa ini, dan nggak pernah ngerasain mudik. Kalau soal offroad sih, I love it! Namun bagaimanapun aku khawatir juga dengan kandunganku. Jalan yang gujrak-gajruk dan berbatu-batu yang nggak berbelas kasihan bikin kami semua melanting ke sana-sini. Aku cuma bisa berdoa dan berusaha berkomunikasi dengan si kecil di perut. Aku sering-sering berbisik padanya tanpa sepengetahuan orang lain, "Dedek, pegangan erat-erat ya, kita lagi offroad. Dedek nggak apa-apa, kan?".
Tapi mungkin Basil memang kuat dari kecil. Waktu hamil Basil, aku masih kerja di perusahaan penerbit majalah cewek. Majalah cewek 20s, deh. Waktu itu jadi reporter plus penulis. Biar hamil teuteup dong, meliput acara ini, acara itu. Belum acaranya yang weekend, terus acara anak muda, entah di lapangan olahraga. Belum lagi liputan acara musik atau launching di cafe yang wartawannya banyakan pada merokok. Duhhh, uhuk uhuk, kasian dong, baby-ku!
Saat itu pula, Ayah dan Bunda masih merambat banget nih keuangannya, he he. Abang masih naek motor. Aku seringnya diantar dan dijemput Abi. Untung masih tinggal sama Abi dan Umi. Lagipula Abi udah pensiunan jadi berbaik hati mau mengantar. Tapi kadang juga dijemput Abang naek motor. Bahkan, sering juga naik bis sampai rumah, atau sampai Ratu Plaza baru dijemput Abang.
Alhamdulillah, sepanjang hamil nggak pernah ada masalah, apalagi sampai flek. InsyaAllah Basil anak yang senantiasa kuat dan sehat. Amiiin.

Minggu, Mei 18, 2008

Resep Sayap Ayam Bakar Madu

Wah, posting resep lagi. Padahal kan, maunya banyakan cerita tentang Basil. Hehe, biar deh, siapa tau si Abang mau masak di Auckland.
Anyway, ini enak dan gampuang! Aku dapetin resep ini hasil browsing somewhere I forgot. Bon apetite!

Bahan:
500 gr sayap ayam

Perendam:
50 gr bawang Bombay cincang halus
3 siung bawang putih cincang halus
4 sdm saus tomat
50 ml air jeruk nipis
1 sdm madu
Garam dan merica secukupnya

Cara membuat:
- Rendam sayap dalam bumbu perendam 30 menit – 1 jam.
- Panaskan oven 1800.
- Letakkan sayap ayam di dalam pinggan tahan panas dan oven selama 1 jam.
- Olesi dengan kuah perendamnya selama dalam oven.
- Keluarkan dan biarkan sebentar sebelum disajikan agar tidak terlalu panas.

Sabtu, Mei 17, 2008

Resep Sapi Lada Hitam

Ini bekal yang biasa kubikin untuk Abang. Katanya sih, dia suka. Tapi mungkin dia suka mungkin bukan karena enak, tapi emang dia suka daging aja!
Aku juga suka bikinnya karena praktis. Cemplung-cemplung, diemin semalem, besoknya tinggal tumis deh!

Bahan:
1 genggam daging sapi iris tipis memanjang
1 sdm saos tiram
1 sdm kecap manis
1 sdm minyak wijen
1 sdm kecap asin
1 sdm kecap Inggris
1 siung bawang putih cincang halus
lada hitam bubuk sebanyak-banyaknya
1 sdm mentega
garam bila perlu (kecap asin kan udah asin)

Cara membuat:
- Aduk daging dalam semua bahan kecuali bawang putih, lada dan mentega. Diamkan minimal 1 jam.
- Tumis bawang putih dalam mentega panas dengan api kecil.
- Masukkan campuran daging, aduk.
- Tambahkan lada hitam sebanyak-banyaknya sesuai selera, masak sampai matang.
- Bila daging kelihatan belum empuk, tambahkan sedikit air dan masak lagi hingga air menyerap dan daging matang.

Untuk 1 orang

Tips:
- Irisan daging yang siap masak biasanya bisa ditemui di supermarket dengan label 'daging tumis'. Enak nggak usah motong-motong lagi.
- Nggak pake saos Inggris juga nggak apa-apa. Aku juga nggak pernah pake kok, he he!
- Kalau mau buat bekal siapkan malam sebelumnya, jadi paginya tinggal ditumis sebentar, kelar!
- Biar lebih lengkap bisa tambahkan potongan paprika warna apa saja pas ditumis. Bahkan kalau mau sedikit pedas, tambahkan irisan cabe keriting!

Rabu, Mei 14, 2008

Setitik Janin di Layar USG

Beberapa minggu setelah menikah, aku pun mulai bertanya-tanya apakah aku akan hamil segera atau nanti. Merasa sudah waktunya menstruasi tapi belum juga datang, aku pun mulai berpikir adanya kemungkinan aku sudah hamil. Abang sih, cengar-cengir aja dan berpikir kalau aku belum hamil. Tapi aku penasaran, maka diam-diam aku beli sendiri test-pack. Ternyata memang belum. Abang yang akhirnya kuberitahu tentang hasil tes berkomentar, "Kamu ge-er, sih". Meski agak kecewa aku jadi ikut ketawa juga. Iya nih, aku kok ge-er amat ya.
Waktu berlalu hampir sebulan setelah si test-pack negatif itu. Aku kerja seperti biasa berusaha mengabaikan soal hamil-tidaknya aku. Lalu tibalah saat-saat itu. Tanda-tanda kehamilan mulai kelihatan. Beberapa kali tiap pulang dari kantor aku mual bahkan muntah di rumah. Jadi ingat film-film Indonesia jaman dulu! Untung muntah-muntahnya nggak sambil nyuci baju. Ihh, film apa itu ya, yang pembantunya ketahuan hamil? Kkkkkkkk!
Kali ini Abang yang penasaran, sedangkan aku berusaha cuek karena nggak mau kecewa lagi. Akhirnya dia ngotot membelikan aku test-pack. Dan...voila! Believe it or not, I was gonna be a mommy! It's a positive! Kami berdua sangat senang karena nggak menyangka akan dikaruniai secepat ini. Aku juga tambah senang melihat reaksi Abang saat itu. Pokoknya kelihatan banget kalau dia happy.
Dulu, sejak aku masih single aku punya banyak teman yang meski sudah nikah bertahun-tahun belum juga dikaruniai anak. Beberapa diantaranya bahkan sudah mencoba berbagai pengobatan medis hingga pengobatan alternatif untuk memiliki anak. Melihat keadaan tersebut tanpa sadar aku jadi mempersiapkan diri bahwa ada kemungkinan bila ingin memiliki anak harus melewati perjuangan seperti mereka dulu. Bahkan, di awal-awal pernikahan kami pun kami sudah membicarakan apabila dalam 6 bulan aku masih belum juga hamil, kami akan menemui seorang dokter kandungan untuk berkonsultasi. Makanya, kami benar-benar nggak nyangka bakal dikaruniai secepat ini.
Karena saat itu hanya beberapa hari menjelang Idul Fitri, maka pilihannya adalah rumah sakit khusus ibu dan anak. Masak sih, di sana nggak ada dokter kandungan? Nggak mungkin tho.. Ternyata dokter yang ada saat itu langsung menimbulkan rasa cocok pada kami berdua. Cocok? Iya, katanya milih dokter juga cocok-cocokan. Kayak milih jodoh aja! Dr. Ismail Yahya, SpOg langsung memutar-mutar alat seperti mouse di perutku dan..aha! Itu dia! Apa? Aku cuma melihat titik sebesar laler ijo?? Ya itulah setitik janin di layar USG.
Secara santai dr. Ismail pun berkomentar, "Nah, itu dia. Kakinya baru 8 ya. Nanti akan jadi 16.." Masih dalam keadaan senang karena bisa melihat si janin aku 'agak' mikir 'kaki 8?? Emangnya anak gurita? Aku ini manusia lho! Bakal jadi 16 pula?? Maksudnya apa ya?'. Well, jangan ditanya deh, sampai sekarang pun aku nggak tahu maksudnya apa. Mungkin ada penjelasannya secara medis. Jangan kaget, nanti kita bakal temui komentar lain dari dr. Ismail yang mengejutkan.
However, kita pulang sangat senang dan segera woro-woro ke dua belah pihak keluarga. The baby is coming!

Sabtu, Mei 10, 2008

Perginya Ayah ke NZ

Akhirnya, pergi juga Abang ke Auckland.
Pfff...akhirnya turun juga airmataku.
Bener-bener deh, nggak ada yang direncanain tahun lalu berjalan di tahun ini. Tiba-tiba aja kita punya baby lagi. Eh, tiba-tiba pula Abang harus menggantikan teman kerjanya untuk ikut program karir dari perusahaan ke Auckland. Selama 6 bulan lagi??
Berarti aku bakal melahirkan dedenya Basil sendiri. Padahal masih trauma gara-gara lahiran Basil dulu. Tapi nggak trauma dong, sama Basilnya hehe.
Setelah sehari sebelumnya tol ke bandara digenang banjir gara-gara tanggulnya jebol, wajar kalo kita ketar-ketir saat hari Jumat, 9 Mei 2008 kemarin harus lewat jalan itu lagi. Masalahnya, kalau tol itu masih banjir, harus lewat manakah kita mengantar Abang ke bandara?
Alhamdulillah, ternyata banjir sudah surut. Walau begitu untuk mengurangi resiko macet dll dsb maka kita berangkat pukul 11. Ternyata jalan lancar dan gak kepagian jadinya. Tapi lebih baik begitu sih, jadi kita bisa tenang nunggu waktu check-in-nya.
Selam menunggu, Basil keliatan excited karena banyak yang dilihat. Sampai-sampai dia agak lupa menyusu, cuma dua kali selama menunggu. terpaksa aku menggelar 'ruang menyusui portable' andalan, alias keredongan dengan pashmina hitam.
Tunggu punya tunggu, teman-teman Abang mulai datang, Pak Naryo dan Dipo. Tinggal bule-bulenya yang belum datang. Mepet banget kayaknya.
Akhirnya sekitar pukul 3 ternyata sudah boleh check-in. Akhirnya waktu berpamitan. Duh, berat deh, ternyata. Hmpff..rasanya udah ditahan-tahan. kemarin-kemarin sih, belum kepikiran sedihnya. Tapi saat itu udah nggak bisa apa-apa deh, selain berkaca-kaca. Kalo bisa nggak mau lepas pelukan. Kalo bisa aku langsung ikut juga sambil menggondol Basil. ternyata bisa juga aku merasa kehilangan si gendut. Cuma sama dia memang aku jadi manja.
Pulangnya Basil langsung minta eneh dan langsung tertidur pulas. Rupanya udah ngantuk dari tadi. Tapi, berhubung banyak pemandangan baru baginya, sayang baginya untuk ditinggal tidur sepertinya.
Malamnya aku terima email bahwa Abang udah sampai di Changi untuk transit. Tapi, ternyata cuma sebentar, jadi nggak bisa berSkype. Ya udah asal selamat.
Nah, begitu malam deh,muncul curcial moment. Seperti biasa jam 8 aku mulai ngelonin Basil sambil menyusui. Seperti biasa juga, dia penasaran dulu sama kepala tempat tidur, terus guling-gulingan nyari posisi enak. Selama itu yang ada aku malah nuangiss melulu. Basil ngeliat aku agak bingung, tapi dia terus cuek aja. Dasar gembil..
Setelah Basil akhirnya tidur sambil eneh, aku pun tidur juga.
Kita yang ditinggal pergi sama seseorang biasanya lebih 'berasa' ketimbang yang pergi. Soalnya, si pergi kan ada di tempat baru. Masih banyak yang perlu ia lakukan, banyak yang masih harus dilihat, banyak yang harus ia adjust. Sedangkan yang ditinggalkan 'dunia'nya masih sama, tapi minus si pergi.
Aku jadi seballll Abang harus pergi. Kangen itu perasaan yang menyeballlkan.
Cepat kembali ya, Ayah. Hati-hati di sana. Kami bertiga di sini menunggu.
Hiksss!!!!

Senin, Mei 05, 2008

The Beginning

Nah...
It's all begin when I jumped into a fast track train. Well, it felt like it.
Saat aku bertemu suamiku pertama kali, aku sudah bekerja selama kurang lebih lima tahun di tiga perusahaan. Selama itu juga aku secara finansial berusaha untuk nggak terlalu tergantung orang lain. Aku selalu berusaha untuk mandiri. Yah, seenggaknya untuk ukuran aku sendiri, sih.
Terbiasa hidup nggak ngoyo, yang penting happy, aku nggak ngotot-ngotot amat untuk punya cowok. Terbukti sepanjang hidupku yang namanya mantan pacar bisa dihitung dengan satu tangan saja. Terserah yang kanan atau yang kiri. Itung pakai kaki juga boleh.
Tapi kira-kira di dalam setahun sebelum aku bertemu suamiku, samar-samar aku ingat rasanya seperti pernah melakukan speed dating, in my own way. Siapa yang mau kenalan hayu, siapa yang mau ngenalin aku dengan maksud menjodohkan, hayu juga. Blind date, ok! Kencan dengan yang lebih tua, lebih muda, siapa takut? Aku sebut speed dating karena cara penyisihan finalisku yang cukup cepat. Kalau setelah pertemuan pertama nggak ada pertemuan berikutnya, berarti dia nggak tertarik. Kalau dia terlalu 'mengerikan' buatku, aku yang kaburr!
Kalau dia ragu-ragu? Ah, lama banget, sih, aku nyambi kenalan sama orang lain aja, deh!
Aku nggak sadar melakukan speed dating ini karena, biasalah, Mama yang udah ngebet mantu. Belum lagi almarhumah Nenek yang dulu selalu mendoakan aku tiap mau berangkat kerja, agar ia sempat melihatku menikah.
Alhasil, mendekati akhir tahun 2005 aku bertemu suamiku dan merasa bisa langsung ngobrol apa saja. Selain itu ia tampak nggak ragu-ragu menunjukkan rasa tertariknya padaku. Jadi saat itu seperti Yan dari Wok with Yan bilang: "Whotta heck!", jadilah kita pacaran.
Ternyata pacaran yang ini benar-benar dimanfaatkan Mama dengan mengintimindasi suamiku untuk menikahiku(ohahhahaha!!). Baru juga sebulan, Mama sudah berkali-kali bertanya, "Kapannn???" kepadanya. Akhirnya dia dan aku menyerah juga, dan bulan Agustus tahun berikutnya kami menikah. Sebulan dari itu? Aku hamil!
Peralihan status dari single fighter jadi pacar orang yang baru dikenal sebentar, terus jadi calon pengantin yang bersiap-siap menikah, terus ke menikah beneran, lalu jadi istri orang, and soon be a mommy-to-be (gasp!) rasanya seperti naik bullet train!
I was totally over-overwhelmed! Mungkin ini yang jadi salah satu pemicu kewalahanku saat menghadapi jadi ibu.
And the madness continue..